-= Di Balik Tirai Mengapa Perempuan Selingkuh =-
Sumber : Gloria cyber ministrie s
Susan Ripps, penulis yang mewawancarai ratusan istri yang berselingkuh untuk bukunya A Passion for More, mengatakan, “Dulu kaum istri cenderung mengalah atau lebih menerima nasib, sekarang mereka bereaksi agresif. Bila dirasa ada yang kurang dalam perkawinannya, mereka segera berontak, termasuk nekat punya pacar. Sikap semacam itu tendensinya meningkat.”
Perselingkuhan oleh perempuan adalah fantasi yang menyulap ia menjadi “Cinderella” di siang hari dan ibu rumahtangga di malam hari, kata Psikolog Nancy Arndt. Ia akhirnya memilah-milah sendiri kehidupannya supaya fantasinya tidak terusik. Misalnya enam hari menjadi istri dan ibu yang baik, hari ketujuh menjadi kekasih yang tak kalah baiknya. “Perempuan canggih dalam hal berfantasi begini,” katanya.
Menurut Susan Ripps, umumnya perselingkuhan terjadi karena didorong oleh ketidakpuasan kepada suami. Istri merasa terpisah, terabaikan, atau lebih buruk lagi, kehilangan jati dirinya. Ia merasa terjerembab dalam “neraka” perkawinan.
Namun, menurut Dr Frank Pittman, terapis perkawinan yang juga penulis buku, alasan tersebut dicari-cari saja. “Laki-laki dan perempuan sama- sama cenderung mencari alasan bila mereka berselingkuh. Hanya saja, kalau laki-laki suka mencari alasan yang agak tidak masuk akal, perempuan lebih suka mencari kambing hitam. Ia berusaha meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa perselingkuhan dilakukannya akibat ulah suaminya, misalnya kurang perhatian. Prinsipnya, melempar kesalahan kepada suami.”
Ada juga perempuan yang sportif. Mereka dengan gagah mengaku merasa sejajar dengan laki-laki, mempunyai hak yang sama dalam menentukan langkah hidupnya. Pendapat ini bagus-bagus saja kalau diterapkan dalam hal positif. Sayangnya, tindakan terburuk yang dilakukan laki- laki pun ditirunya, dan hal ini sering mengakibatkan lahirnya problema besar. Tidak sedikit perselingkuhan yang berakhir dengan perceraian.
Dengan nada agak keras, Dr Pittman mengatakan, “Setiap perkawinan pasti punya sisi minusnya. Masalahnya, bagaimana menghadapi kekurangan itu. Bila ada orang yang senang karena merasa menjadi ‘pemenang’ dengan cara menginjak-injak aturan yang berlaku, itu namanya sakit.”




good topick !!!
Comment by roseilia — 06-03-2007 @ 13:47:46